Webinar 1 Dialog Interaktif Peternakan “Kebijakan Cutting HE Tuai Pendapat Berbagai Stakeholder Peternakan”

Hari Sabtu (2/10/2021) Program Studi D3 Budi Daya Ternak, Politeknik Pertanian dan Peternakan Mapena mengadakan acara webinar dialog interaktif pertanian dengan mengangkat tema Kajian Dampak Kebijakan Pengendalian Produksi DOC Final Stock dari Berbagai Perspektif Stakeholder di dunia peternakan. Acara tersebut mengundang beberapa instansi baik dari pemerintah, industry dan akademisi. Acara disambut oleh Direktur Politeknik Pertanian dan Peternakan Mapena, Dokter Hewan Ali Saifudin, drh., M.Sc.  dan dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Tuban diwakili oleh Kepala Bidang Peternakan yakni Dokter Hewan drh. Cipta Priyatna. ‘Permasalahan peternakan di Tuban adalah harga telur yang rendah dan bahan pakan seperti jagung dan pakan pabrikan terjadi kenaikan, tentunya peternak di daerah Tuban mengharapkan bahwa harga jual dari produk mereka bias diatas HPP agar mereka mendapat keuntungan yang umumnya masih tergolong UMKM. Kebijakan-kebijakan dari pemerintah pusat saat ini sangat diperlukan yang tentunya dapat meningkatkan keuntungan peternak’ Jelas drh. Cipta Priyatna.

Mengacu pada surat edaran dari Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor: 06030/PK.230/F/09/2021 terkait Pengaturan dan Pengendalian Produksi DOC Final Stock (FS) Ayam Ras Pedaging Bulan September 2021, Politeknik Pertanian dan Peternakan MAPENA bermaksud membuka diskusi terkait kebijakan tersebut bersama para stakeholder di dunia perunggasan. Kegiatan ini diharapkan mampu membuka wawasan bagi mahasiswa politeknik pertanian dan peternakan MAPENA terkait bagaimana dampak kebijakan ini terhadap dunia perunggasan, khusunya industri dan masyarakat sebagai pelaku usaha kecil mikro dan menengah (UMKM).

Berbagai stakeholder diundang dalam dialog ini. Instansi pemerintahan diwakili oleh Bapak Iqbal Alim S.Pt dari Kasubdit Ternak Unggas dan Aneka Ternak Direktur Perbibitan Kementrian Pertanian Direktorat Jendral Peternakan dan Kedokteran Hewan. Industry peternakan diwakili oleh Aan Andri Yanto, S.Pt., M.Sc. dari Marketing Research and Development, PT. Cheil Jedang Superfeed. Akademisi bidang peternakan diwakili oleh Muhammad Dani S.Pt., M.Sc dari Dosen Program Studi Peternakan, Universitas Bengkulu. Kebijakan cutting HE (Hatching Egg) Fertil oleh pemerintah pusat telah mengikuti Permentan No 32 Tahun 2017 tentang Tentang Penyediaan, Peredaran, Dan Pengawasan Ayam Ras Dan Telur Konsumsi terkait Keseimbangan suplai dan demand. Hal tersebut tidak lepas dari pola konsumsi daging ayam di Indonesia, terutama di pulai Jawa yang tidak lepas dari adat-adat tertentu atau bias dibilang musiman. pengaturan dan pengendalian produksi DOC FS melalui cutting HE fertil umur 19 hari untuk menyeimbangan jumlah ayam yang dibutuhkan sehingga didapat harga daging ayam yang stabil di pasaran.

Tanggapan dari Bapak Aan menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah dalam menyemimbangan peredaran bibit unggas broiler memiliki dampak yang positif dan efek yang negatif. Pada industri pakan secara tidak langsung terkena dampak dari cabang industri penetasan (hatchery) dengan dimusnahkannya HE atau bakal bibit broiler maka secara otomatif kebutuhan permintaan pakan broiler juga turun sehingga mengalami pengurangan omset. Sedangkan tanggapan dari akademisi yakni Bapak Dani menjelaskan bahwa peternak kecil skala UMKM hanya membutuhkan harga bibit yang stabil serta pakan yang stabil agar mendapatkan HPP yang optimal serta diharapkan pemerintah pusat dapat memberika kebijakan bagaimana semua pihak yang terlibat di industry peternakan sama-sama nyaman. Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah pusat telah memberikan himbauan atau yang tertulis dalam Permentan no 13 tahun 2017, ‘pemerintah mendorong agar peternak tersebut untuk melalukan kerjasama dengan perusahaan terintegrasi agar kondisi peternak skala UMKM mendapatkan keuntungan yang stabil’ jelas Bapak Iqbal.

Faktanya, kebijakan pemerintah terhadap pengurangan edaran bibit ayam ras potonghidup dipasaran ternyata memunculkan masalah baru seperti alasan turunnya harga telur ras dan kebijakan impor karkas ayam ditengan surplusnya kebutuhan daging ayam. Terlepas dari momen tersebut, semoga para peternak semakin sejahtera. –LNA-

Streaming Webinar bit.ly/LiveWebinarMapena1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *